Kamis, 26 September 2019

Psychology Corner: Pokok Pokok Pemikiran Arnold Gessell: Bisakah kita mulai memberi tempat bagi Anak-anak kita



“Suatu hari, saya sangat frustrasi atau malah mungkin demotivasi, menghadapi seorang anak yang tak juga kunjung mau melakukan instruksi sederhana yang saya berikan. Berbagai tarik ulur metode dalam keterbatasan pengetahuan dan pengalaman telah saya lakukan. Namun, tidak ada hasil yang konsisten dan melekat seterusnya setiap hari. Sampai saya berpikir, apakah sesungguhnya dia butuh itu? Apakah dia sudah siap untuk suatu tugas? Apakah yang sebenarnya dia butuhkan?”

academichelp.net

Saya kembali memikirkan judul yang tepat untuk kontemplasi kali ini. Namun, rasa-rasanya kata “memberi tempat” sudah sangat tepat mewakili visualisasi saya tentang kebutuhan anak-anak akan sebuah “ruang”, “tempat”, atau dalam hal ini sebuah kesempatan dan kelonggaran untuk menjadi diri mereka sendiri. Kita atau saya sebagai orang dewasa, baik sebagai ibu secara alamiah atau pendidik, seringkali secara sadar atau tidak sadar menjadikan anak-anak sebagai sebuah objek yang perlu dan bisa kita kendalikan menurut keinginan kita. Ya.. memang kita mengatakan “ini demi kebaikannya”. Namun betulkah itu? Jangan-jangan semua rencana, instruksi, dan niat-niatan kita yang terlihat tulus itu sebenarnya hanya wahana bagi kita untuk aktualisasi ego kita yang selalu ingin mengendalikan, membentuk, dan menguasai orang lain, yang dalam konteks kita kali ini adalah anak.

Sejujurnya, saya sangat bersyukur dengan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan praktik-praktik tentang pengasuhan atau pun pendidikan anak pada tahun tahun ini. Banyak ide yang sudah berpihak pada anak seperti sekolah inklusi, kota ramah anak, aplikasi anak dll,, sangat banyak sekali. Ide-ide tersebut pada implementasinya membutuhkan ketulusan dan kesungguhan untuk benar-benar membuat sebuah lingkungan yang berpikiran berbasis kebutuhan atau hak anak. Momen menjadi seorang pendidik, adalah sebuah tantangan untuk kita mengetes idealisme kita tentang pendidikan yang berbasis pada kemampuan anak perindividu atau akhirnya kita akan menjadi pendidik yang hanya memaksakan suatu pakem sosial, penyeragaman anak-anak dalam satu model yang menurut kita sempurna? Ya setidaknya itulah yang saya rasakan dan membuat saya gelisah.

ktar.com

Hingga pada suatu kesempatan saya berkenalan dengan Arnold Gessell dalam sebuah buku Teori Perkembangan. Dia memang tidak seterkenal Ilmuwan lain seperti Freud, Montessori, Maslow, dan lainnya. Namun, pokok-pokok pemikirannya yang saya tangkap cukup sederhana membuat saya mundur beberapa langkah untuk kembali menata hati dan niat dalam mendidik anak-anak. Pemikiran yang membawa pada pertanyaan “Bisakah kita menghargai anak-anak kita dengan memberi kesempatan anak-anak melakukan sendiri apa saja yang bisa membuat mereka bertumbuh?”

Siapa Arnold Gessell?
schoolworkhelper.net

Dokter Bayi, itulah sebutan yang diterima oleh Arnold Gessell (1880-1961). Laki-laki yang tumbuh besar di Alma, Wincounsin, sebuah kota kecil di Sungai Mississippi atas ini telah secara habis-habisan mempelajari perkembangan anak-anak melalui observasi. Bahkan untuk meningkatkan pengetahuannya mengenai proses-proses fisiologis yang melandasi perkambangan tersebut dia kuliah kedokteran pada usia 30 tahun. Padahal saat itu dia telah menyandang gelar Phd dan Psikolog yang sukses. Pada usia 50 tahun Gessell terlibat dalam penelitian tentang perkembangan neuro motorik bayi dan anak-anak bersama dengan koleganya di Yale Clinic of Child Development. Gessell mengembangkan tes kecerdasan bayi untuk pertama kalinya dan juga peneliti pertama yang menggunakan film untuk observasi. Jadi memang Gessell ini sangat semangat dan sungguh-sungguh dalam niatannya memahami anak-anak. Lantas seperti apa konsep Gessell tentang anak-anak?

Konsep Kematangan
Pada tulisan saya sebelumnya Tahap Perkembangan Ala Rousseau telah dijelaskan bahwa tingkah laku dituntun oleh rencana batiniah dan sesuai time line Sang Alam. Hal tersebut sering dikenal dengan konsep kematangan biologis. Arnold Gessell adalah salah satu peneliti yang sangat bersemangat mempelajari konsep dari Rousseau ini. Gessell menyebutkan bahwa tumbuh kembang anak ditentukan oleh dua faktor.
1. Anak adalah produk dari lingkungannya
2. Fundament yang paling penting adalah keyakinan Gessell bahwa perkembangan anak berasal dari dalam, yaitu dari aksi gen-gen di tubuhnya. Hal tersebut dikenal dengan konsep kematangan.

Gessell mengamati bahwa semua proses perkembangan terjadi dalam urutan proses tertentu yang tidak pernah terbalik. Contohnya:
A. Jantung selalu menjadi organ yang pertama berkembang dan berfungsi
B. Setelah jantung yang berkembang adalah otak dan saraf tulang belakang.
C. Setelah itu bagian lain yaitu tangan dan kaki mulai terbentuk
D. Proses urutan itu juga terjadi setelah bayi lahir, yaitu kepala berkembang lebih dahulu. Sehingga kadang kepala bayi terlihat lebih besar daripada proporsinya dgn kaki dan tangan.
E. Anggota badan yang dieksplore pertama kali oleh bayi juga berasal dari kepala yaitu mata, mulut, lidah.
F. Baru kemudian mereka mulai menggerakan kaki dan tangan mereka.

sutori.com


Kecenderungan pertumbuhan dari kepala menuju kaki ini disebut dengan chepalocaudal.Berbagai urutan perkembangan ini terjadi berurutan atau bergiliran sesuai dengan pertumbuhan sistem saraf. Nah anak-anak memiliki tingkat perkembangan yang berbeda-beda, sehingga kecepatan pertumbuhannya pun berbeda-beda. Namun, prinsipnya sama yaitu perkembangan anak pasti ada urutan pakemnya yang dikendalikan oleh mekanisme genetik mereka.

Saat bayi lahir ke dunia bayi memasuki alam yang berbeda jenisnya dengan saat di dalam kandungan. Dunia luar adalah dunia yang penuh intervensi dan standar-standar yang harus bayi penuhi bahkan sejak dia masih sangat kecil. Sebagai contoh sederhana, saat bayi lahir orang akan mulai mengomentari berat badan yang kecil, kulit yang warna dan kehalusannya berbeda, tangisan yang lain dari yang lain. Dan intervensi lingkungan orang dewasa itu terus berkembang sepanjang hayat si bayi hingga dewasa. Why don’t, we have a space for the baby to accept him as the way he are? Secara naluriah rasanya memang kita sulit menerima bayi-bayi ini apa adanya dengan kegembiraan. Of course its okay to be worry of something that maybe wrong with the baby, but please have a time to respect them and have a hopefull heart to care with their lack. Bahkan jika ada bayi yang memiliki kekurangan pun, berhentilah menjudge bahwa dia akan menderita ke depannya. Pakailah hati yang penuh harapan. Sebab bisa saja kematangan biologis tiap anak berbeda.

anaksehatsllu.blogspot.com


It doesnt make sense if we say a baby is abnormal because they just have a little lateness of their skill to walk. Selama itu tidak terlalu jauh dari jadwal perkembangannya, kita tidak perlu menuntut bayi ini untuk segera bisa melakukan banyak hal. Misalkan seorang bayi 3 bulan belum bisa tengkurap jangan langsung judge dia dan memasang perasaan khawatir berlebihan. Just give him a time. Beri dia waktu untuk menyiapkan semua perkembangan fisiknya. Pada momen yang tepat mereka akan sanggup melakukan tugas menurut desakan-desakan dalam dirinya. Sebelum momen itu tiba, pengajaran sekecil apapun malah bisa menciptakan ketegangan antara bayi dan pengasuh.

Berbagai contoh pola-pola urutan alami perkembangan anak
1. Duduk sebelum berdiri
2. Mengoceh sebelum berbicara
3. Mengarang-ngarang sebelum mengatakan kebenaran
4. Menggambar lingkaran sebelum menggambar kotak
5. Egois sebelum altruis (peduli)
6. Bergantung pada orang lain sebelum mandiri.
7. Menggenggam dadu dengan tangannya sebelum menjumput dengan jarinya.
Berbagai hal di atas Gesseil yakini berkembang sesuai dengan kematangan biologis seperti perkembangan otot, hormon, dll.
Apa yang ingin saya sampaikan adalah bahwa jika anak kita, anak anda, belum bisa melakukan sesuatu yang anda inginkan yang anda anggap normal dan wajar bagi anak seusianya, janganlag terburu-buru pesimis apalagi memarahi dan melabeli anak kita tidak mampu atau nakal. They need a time to adapt with this strange and complex world.

Beberapa tips pengasuhan berbasis teori kematangan biologis Arnold Gessell:
1. Buanglah jauh-jauh pandangan bahwa perkembangan anak semata-mata bergantung kepada cara kita mendidik mereka, sehingga kita berpikir jangan sampai buang-buang waktu.
2. Berusahalah menghargai keajaiban pertumbuhan. Amati dan nikmatilah fakta bahwa setiap minggu dan setiap bulan membawa perkembangan baru bagi mereka.
3. Hargailah ketidakdewasaanya. Antisipasilah fakta bahwa dia ingin, seperti anak-anak pada umumnya, kebutuhan untuk merangkak sebelum berjalan, mengekspresikan diri dengan kata tunggal sebelum bicara dengan kalimat.
4. Cobalah menghindari berpikir dalam sudut pandang apa yang akan terjadi kemudian . nikmatilah, dan biarkanlah anak-anak menikmati juga setiap tahapan yang dicapainya sebelum melangkah ke tahapan yang lebih besar.

juniorimprint.com

Menurut saya pribadi dan saya yakin, daripada kita menuntut anak untuk ini itu, mematuhi berbagai perintah, jauh jauh jauh lebih penting untuk memfasilitasi perkembangannya dengan cara,
1. memenuhi nutrisi fisiknya,
2. menjadi figur yang menerima dia apa adanya,
3. mengenalkan berbagai hal daripada menyuruh dia melakukan sesuatu yang tunggal spesifik,
4. Memberi lingkungan yang aman dari berbagai potensi kecemasan fisik dan psikologis seperti hindari pertengkaran orang tua, ciptakan lingkungan bersih, buat suasana keluarga yang komunikatif, terbuka dan menerima segala kekurangan dan kelebihan anak.
5. Daripada berpikir apa yang anak kita hebat, apa yang anak kita lebih hebat dari pada anak yang lain, apa yang membanggakan dari anak kita, pertama-tama berpikirlah apa yang sudah kita berikan untuk mereka? Tepatkah yang kita berikan ke anak-anak kita?

Bagaimana? Apakah kita siap akan kerendahan hati untuk menghargai anak kita? Ketidakpatuhannya? Kelambatannya? Kemanjaannya? Lets try and see

Inspired from:
1. Teori Perkembangan, William Craine. Pustaka Pelajar.
2. Pengalaman saya sebagai anak, orang tua, dan pendidik di sebuah sekolah inklusi
need discussion? please contact me nurululfahpujilestari@gmail.com 




Sabtu, 07 September 2019

Challanging Moment: Simple Thing, Big Effort, Great Meaning

Collage of my experience in inclusive school

Pengalaman sederhana dan penuh makna di Sekolah Inklusi


sumber gambar : latonyawilkins.com


“Saya percaya bahwa seorang guru yang penuh kasih adalah salah satu kekuatan yang paling hebat dan positif yang ada di lingkungan masyarakat”
J. David Smith

Menjadi seorang guru adalah hal yang luar biasa menantang dan hal yang penuh dengan ribuan-jutaan pengalaman yang nyaris baru setiap hari. Berbagai metode pembelajaran, rencana pembelajaran, dan persiapan-persiapan lain yang guru lakukan bagi sebuah kelas akan direspon secara berbeda oleh setiap anak. Sekali lagi, individual differences, perbedaan individual, adalah hal yang mutlak dan tak mungkin dapat diabaikan dalam proses kita mengelola sebuah kelas. Betapapun secara sengaja atau pun tak sengaja kita menutup mata terhadap perbedaan tiap anak, dengan segera kita akan kembali tersadar oleh tingkah-tingkah orisinil mereka yang seakan-akan telah menjadi bagian dari keajaiban semesta.

Dalam sebuah kelas, yang katakanlah tidak inklusif, yang hanya menerima anak “non abk”, tetap ditemui bermacam perbedaan antar individu yang tentunya saling sangkut dengan hasil prestasi akademis. Di mana kita secara awam memahami bahwa prestasi akademis lah yang telah menjadi hipnoter utama dalam pusaran pembelajaran kita. Semua perilaku, usaha, dan pengetahuan seakan harus bisa dikonversikan menjadi “prestasi akademis”.

Di sekolah inklusi, hal semacam “prestasi akademis” adalah hal yang berbeda, paling tidak itulah yang saya temui di tempat saya bekerja. Bukan berarti sekolah hanya berisi segala sesuatu yang penting fun atau senang dan sama sekali tidak memiliki target akademis. Di sekolah ini saya melihat pentingnya penekanan pada perilaku/ behaviour dan sikap/attitude. Hal konkrit terkait itu yang saya lihat contohnya adalah:


a. Pembiasaan sikap bertanggung jawab dari yang paling sederhana.

Hal ini seperti: menaruh botol, tas, dan perlengkapan belajar pada rak-rak yang berbeda satu sama lain. Percayalah hal itu memang terdengar mudah dan sederhana. Namun, ada saja anak-anak yang lupa atau sengaja tidak menaruh sesuatu sesuai dengan tempatnya. Kata kunci di sini adalah “kesadaran untuk bertanggung jawab”.


                                                   sumber gambar: dekoruma.com



b. Pembiasaan mengkomunikasikan masalah.

 saat anak-anak bermain dengan teman-temannya akan seringkali terjadi masalah antar mereka sendiri. Guru di sini tidak menekankan “Kamu yang salah, dan ini hukuman mu!” Guru akan mencari keterangan dari pihak-pihak yang terlibat sampai guru betul-betul mendapat benang merahnya. Sambil guru mencari keterangan dengan bertanya pada anak tentang apa yang sesungguhnya terjadi, anak jadi terbiasa untuk membicarakan masalah dan mencari solusinya, bukannya menyembunyikan masalah yang belum terselesaikan. Kata kuncinya adalah “komunikasi” dan “problem solving”.


                                                  sumber gambar: healthychildren.org

c. Pembiasaan sikap saling menghargai dalam berkomunikasi.

Perilaku ini dilatih mulai dari yang paling sederhana: mendengarkan saat orang lain berbicara. Secara sederhana di sekolah ini anak-anak sudah melewati fase “ayo berani lah berpendapat”. Mereka selalu aktif berbicara dan selalu ingin menyampaikan pendapatnya. Sehingga yang perlu ditumbuhkan adalah a). Angkat tangan jika ingin berpendapat dan tunggu hingga ditunjuk, b). Berbicara bergantian, c). mendengarkan orang lain yang sedang berbicara. Percayalah sekali lagi kepadaku ini adalah hal sederhana yang terkadang tidak mudah dan cepat dibiasakan. XD. Kata kunci di sini adalah “Hargai ide temanmu”

                                                  sumber gambar: shutterstock.com

d. Pembiasaan sikap menghargai perbedaan.

Pada dasarnya jika kita mau betul-betul menghargai keindividualitasan setiap orang/anak. Maka bisa kita sebut semua sekolah harusnya inklusi. Semua sekolah harusnya menghargai dan mengembangkan dengan tulus kemampuan setiap anak. Baik yang akademis bagus atau tidak, patuh atau tidak patuh, sering bolos atau tidak. Saya membayangkan semua sekolah adalah sekolah dengan guru-guru yang tidak hobi melabeli anak dengan sebutan pintar, tidak pintar, unggulan, tidak unggulan dll. Di sekolah inklusi yang saya temui, perkembangan betul-betul diusahakan untuk dilihat, dilaporkan dan diasah per individu. Hal itu bisa berwujud dengan membuat soal-soal yang sesuai dengan pencapaian anak. Bisa juga dengan membuat jenis ujian yang sifatnya terbuka seperti lisan, praktik, atau project yang bebas untuk berkarya sesuai kemampuan dan kreativitas anak.
Di sekolah inklusi kesadaran terhadap perbedaan benar-benar harus menyeluruh mulai dari perbedaan abk non abk, perbedaan agama, perbedaan ras dan suku, perbedaan sosial ekonomi, perbedaan kemampuan akademis dll. Di sini sebelum guru mencoba menanamkan sifat menghargai perbedaan itu, maka sudah menjadi keharusan bahwa guru juga harus mempunyai sifat menghargai terlebih dahulu. Kata kuncinya adalah menyadari, menerima dan mengembangkan berbagai kemampuan yang berbeda ke arah yang positif”.

                                                sumber gambar : shutterstock.com


Saya kira itu sikap dan perilaku perilaku dasar yang ditanamkan mulai dari kelas bawah (1,2) dan kelas atas. Sedangkan untuk metode pembelajaran tentunya membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan. Apalagi bagi guru yang menghandle kelas dengan murid yang sangat bervariasi jenis kebutuhan khususnya. Nah, mengenai cara menghandle atau menyiapkan kelas yang memiliki variasi kemampuan yang signifikan (misal dalam satu kelas ada abk atau abk dengan kemampuan berbeda-beda) saya akan bahas dalam review buku : Sekolah Inklusif: Konsep dan Penerapan Pembelajaran karya J David SMith. 

Sabtu, 17 Agustus 2019

Family Corner: 3 KEMISKINAN Ini akan Membuat Tumbuh Kembang Anak Terganggu



Bayi dan anak yang diabaikan dan tidak cukup mendapatkan jamahan kemanusiaan serta pengakuan wajar, akan menderita secara mental dan mengalami kemunduran fisik, bahkan kemunduran itu bisa sampai titik akhir berupa kematian.
Dr. Limas Susanto, Psikiater


sumber gambar: oborberkat.com

Hello Good Morning semua parents dan semua penyayang anak yang telah tersasar ke blog ini. Setiap dari kita pasti ingin anak kita menjadi anak yang sehat dan cerdas. Namun, keinginan saja tidak cukup. Harus ada usaha-usaha yang ditempuh untuk memberikan lingkungan yang penuh “sumber untuk tumbuh kembang”. Usaha-usaha tersebut bisa saja mudah, sulit, dan sangat sulit sekali. Apalagi di zaman yang serba cepat dan penuh tuntutan ini, mungkin saja secara sadar atau tidak sadar kita bukannya memberikan lingkungan yang mendorong anak  ke arah tumbuh kembang yang baik. Namun, malah sebaliknya kita sibuk dengan tuntutan pekerjaan atau tuntutan lingkungan sosial sehingga kita lupa pada eksistensi anak kita.

            “Lupa” pada eksistensi anak akan menyebabkan “kemiskinan” pada anak. Menurut Psikiater dr Limas Susanto ada tiga kemiskinan yang akan mengganggu tumbuh kembang anak. “Kemiskinan” ini tidak hanya mengganggu saat anak-anak berada di usia bayi atau balita, tetapi juga akan terbawa hingga perkembangan tahap dewasa. Karena bagaimanapun pembentukan karakter pada anak dimulai sejak dini. Apa saja 3 kemiskinan tersebut mari kita cek:

       1.      Kemiskinan Jamahan Kemanusiaan


sumber gambar: libmagz.com

Bayi adalah makhluk yang membutuhkan sentuhan manusia (human touch). Saat bayi terlahir ke dunia dia merasa seorang diri. Sebab sebelumnya dia tinggal di dunia rahim dan dunia luar adalah dunia yang luar biasa baru baginya. Bayi akan menangis dan akan berangsur mereda tangisannya dengan pelukan, timangan, gendongan, nyanyian, dll yang bersumber dari orang terdekat yang biasanya adalah ibunya. Namun, pemberian human touch ini tentu tidak berhenti di sini saja saat anak bayi. Namun berlangsung terus seiring tambahnya usia anak tentunya dengan modifikasi perlakuan. Modifikasi perlakuan maksudnya saat anak bayi kita bisa menggendongnya, saat anak mulai masuk usia sekolah tentu kita tidak lagi menggendongnya namun berubah dengan pelukan untuk memberi ketenangan.
Agar lebih mudah dan aplikatif berikut telah coba saya tuliskan beberapa point yang menjadi pemicu terjadinya “kemiskinan jamahan kemanusiaan” pada anak:

a.       Baby Blues yang tidak dikelola dengan baik

sumber gambar: thestar.com

Baby Blues adalah sebuah kondisi di mana ibu yang baru melahirkan merasa sedih, bingung, khawatir dengan kondisi barunya. Ibu merasa takut tidak bisa mengasuh anak dengan baik, merasa sendirian dalam mengasuh anak, dan secara tidak sadar saat anak rewel atau muntah akan membentak anak. Baby blues bisa ditangani dengan baik asal ada dukungan yang tulus dari keluarga terdekat. Baby blues yang tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan ibu mengalami depresi pasca melahirkan. Depresi pasca melahirkan akan membuat ibu dan bayi memiliki ikatan yang buruk dan akan membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak aman.
Nah untuk mencegah depresi ini hendaknya kita sebagai ibu selalu tenang, percaya diri, menyempatkan diri untuk rileks dan mengapresiasi diri serta tidak perlu malu untuk minta bantuan pada orang terdekat dalam pengasuhan anak kita jika memang diperlukan.

b.      Penggunaan gadget yang berlebihan


sumber gambar: haibunda.com

Gadget yaitu handphone atau tablet sangat massif penggunaannya saat ini. Anak cenderung tenang saat diberi gadget. Namun juga sebaliknya saat anak jauh dari gadget anak akan menjadi gampang rewel, bad mood bahkan bisa jadi tantrum. Gadget saat ini memang tak bisa lepas dari kehidupan kita. Banyak fitur yang ditujukan untuk anak sehingga anak tidak kunjung merasa bosan karena teramat banyak hal yang bisa dicoba dan dicoba. Padahal gadget ini memiliki hal buruk juga yang bisa merugikan anak, seperti sinar yang bisa merusak mata, radiasi sinyal yang tidak baik bagi tubuh bahkan menurut penelitian terakhir anak bisa mengalami terlambat bicara atau speech delay jika terlalu sering menggunakan hp. Dan yang paling penting adalah kita sebagai orang tua jadi kebablasan. Melihat anak yang anteng dengan gadget kita jadi asyik dengan dunia kita sendiri dan menganggap anak tidak perlu diperhatikan atau diberi sentuhan kemanusiaan tadi.

      2.      Kemiskinan Pengakuan Wajar

sumber gambar: nakita.grid.id

Pengakuan wajar adalah hal yang mendasar juga bagi anak. Pengakuan wajar ini bisa diberikan dalam bentuk ucapan yang mengkonfirmasi bahwa dia anak kita, kita orang tuanya. Bisa dalam bentuk diajak dalam aktivitas yang melibatkan interaksi kesalingan seperti bermain bersama, bercanda, berfoto, telfon saat ada dalam kondiri jarak jauh, dan memberi hadiah. Pengakuan wajar juga bisa berbentuk apresiasi berupa tepuk tangan, ucapan selamat hingga memberi hadiah spesial saat anak melakukan keberhasilan-keberhasilan tertentu. Tentunya pemberian apresiasi ini tidak perlu berlebihan karena jika terlalu berlebihan akan membuat anak bergantung pada pemberian hadiah dalam melakukan sesuatu.
Anak-anak yang tidak mendapat pengakuan wajar kemugkinan akan memiliki rasa percaya diri yang rendah, harga diri yang rendah, dan sulit untuk mencintai atau menerima diri sendiri. Bagaimana dia bisa menerima dirinya sendiri saat orang terdekatnya tidak bisa menerimanya?

    3.      Kemiskinan Nutrisi

sumber gambar: nomnom.co.id

Nutrisi adalah hal yang mendasar bagi pertumbuhan fisik anak. Hal itu sangat jelas karena bayi akan mengalami berbagai pertumbuhan yang pesat di seluruh bagian tubuhnya terutama otak yang menjadi pusat koordinasi tubuh. Pemenuhan nutrisi ini juga mutlak diberikan bahkan sejak anak dalam kandungan. Pemberian nutrisi ini juga perlu untuk mencegah stunting (klik untuk baca tentang stunting) yang saat ini tengah menjadi isu penting juga di Indonesia. Stunting akan menyebabkan banyak kerugian pada anak hingga di masa dewasa. Nutrisi yang paling penting bagi anak terutama adalah ASI. Pemberian ASI tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi pada bayi tetapi juga memenuhi kebutuhan akan sentuhan kemanusiaan dan pengakuan wajar. Pengurangan junkfood dan peningkatan konsumsi buah, sayur, dan daging adalah hal yang patut dibiasakan untuk mencapai tumbuh kembang yang baik.

Terinspirasi dari buku Menepis Hambatan Tumbuh Kembang Anak, terbitan Pustaka Familia.

Senin, 05 Agustus 2019

Menanam Harapan pada Sekolah Inklusi




Hay! Apakah yang terlintas di pikiranmu saat mendengar kata inklusi? Tentang sekolah? SLB? Anak dengan disabilitas? Sekolah yang mahal? Untuk menambah wawasan teman-teman tentang inklusi berikut akan aku share pengalamanku selama terlibat dalam berbagai kegiatan inklusi kurang lebih selama 8 bulan terakhir ini. Pengalamanku akan aku jabarkan dalam beberapa point-point berikut agar gambaran yang didapatkan lebih jelas. Point-point ini menjelaskan tentang apa saja inspirasi, harapan, pengalaman, dan keunikan-keunikan yang aku temui selama ini. Ok Check this out!


sumber gambar : utakatikotak.com


1.      Kelas-kelas yang HIDUP dan BAHAGIA
Di sekolah inklusi yang aku temui kelas-kelas bukan hanya tempat untuk menerima dan menampung ilmu pengetahuan yang diberikan guru. Kelas-kelas di sana adalah sebuah media untuk menampilkan berbagai ekspresi anak-anak. Berbagai karya anak-anak dipajang di tembok-tembok dan disusun sedemikian rupa sehingga ruangan terasa nyaman dan membangkitkan semangat akan kesenangan belajar. Penuh warna, gambar-gambar anak-anak yang sangat natural. Kelas-kelas tersebut harapannya mampu menjadi salah satu cara bagaimana pendidikan bisa membimbing anak dengan kebahagiaan menuju karakter dan potensinya sendiri-sendiri. Bukan kelas yang terkesan formal, kaku, disiplin yang dipaksakan, penuh hukuman, dan persaingan siswa satu sama lain. Kelas di sana adalah kelas yang menjadi ruang ekspresi, menyenangkan, saling menghargai kemampuan satu sama lain, demokratis, menumbuhkan kebahagiaan dan semangat untuk hidup yang lebih cerah.

sumber gambar: 123rf.com

2.      Anak-anak adalah SESEORANG bukan SEKELOMPOK
Saat aku pertama kali masuk ke kelas di sekolah inklusi ini, pikiranku terseret dalam pengalaman masa laluku. Saat aku sd sekelasku ada 40an anak dengan satu guru saja. Luar biasa banget donk. Untungnya aku anak yang saat itu cukup encer otaknya jadi gak diperhatikan guru pun gak masalah. Sementara teman-temanku yang kesulitan dalam memahami pelajaran semakin ketinggalan pelajaran karena ya gimana yaa.. sangat sulit sekali membagi perhatian 1 orang untuk 40 anak-anak yang super unik. Di kelas-kelas sekolah inklusi yang aku temui, setiap kelas selalu memiliki minimal 2 orang guru dengan jumlah murid maksimal 20 atau 22 anak. Ya beda banget kan? Jadi di sekolah inklusi ini para guru bisa memiliki waktu, perhatian dan tenaga yang lebih untuk memperhatikan perkembangan tiap-tiap anak dan membantu anak-anak berkembang sesuai tahap kemampuannya. Harapannya, jika anak-anak terperhatikan secara individu, tidak ada lagi pola pikir yang menyeragamkan kemampuan semua anak. Pada kenyataannya memang kemampuan anak-anak berbeda satu sama lain dan membutuhkan metode pengajaran yang berbeda pula. Atau paling tidak perhatian yang cukup untuk tiap-tiap anak.

sumber gambar: advancementcourses.com

3.      Pengajar yang KREATIF dan MENGHARGAI ANAK
Bagaimana agar anak tertarik dengan kegiatan belajar dan juga memahami materi yang disampaikan? Memang semua membutuhkan effort, usaha yang disertai ketulusan. Di kelas-kelas inklusi yang aku temui guru bukan hanya seseorang yang membacakan materi atau menilai kebenaran dan kesalahan anak-anak. Guru di sini juga bertindak sebagai seorang entertainer. Kenapa entertainer? Ya karena guru berusaha dengan berbagai cara agar mereka menjadi pusat perhatian dan mampu membuat anak senang akan belajar. Guru memberikan pengalaman yang menyenangkan bahkan menghibur. Sehingga sekolah bisa menjadi sebuah desain pusat kegembiraan, bukan menjadi tempat munculnya kenangan-kenangan buruk karena gagal atau malu. Agar suasana seperti itu bisa terwujud membutuhkan tidak hanya KeKREATIFan, tapi juga bagaimana guru menghargai anak. Di kelas-kelas inklusi ini lah aku menemukan guru-guru yang menghargai anak. Contohnya saat anak lelah bisa diberikan kesempatan untuk break minum atau ke toilet. Guru juga memberi kesempatan anak untuk selalu menyampaikan pendapatnya (menghargai kemampuan berpikir anak). Peraturan-peraturan yang ada di kelas pun semua berdasar kesepakatan dengan anak. Mengajar tidak hanya tentang membacakan atau membicarakan materi tetapi tentang bagaimana membuat anak-anak memahaminya. Hal itu bisa tercapai jika guru dan murid membentuk komunikasi dua arah.


sumber gambar: thinkinclusive.us

4.      Tidak hanya MENGUMPULKAN anak dengan disabilitas dengan yang lain, tapi juga MENERIMA dan MEMBANTUNYA
Sekolah inklusi identik dengan dijadikan satunya antara anak dengan disabilitas dengan anak lain “tanpa disabilitas” untuk tidak menyebutnya dengan kata normal. Di sekolah-sekolah inklusi sebenarnya bukan hanya perkara menyatukan yang disabilitas dan non disabilitas (abk dan non abk). Namun, berbagai suku, agama, ras, kepercayaan, gaya hidup, ekonomi, daerah semuanya dibaurkan. Saat kita mengumpulkan banyak perbedaan tentunya tidak hanya semata mengumpulkan dan membiarkan semua terjadi secara “terserah”. Namun, saat kita berani mengumpulkan banyak perbedaan kita juga harus mampu dan mau MENERIMA nya. Dengan menerima maka baru lah kita bisa MEMBANTU. Berkumpulnya banyak individu dengan beragam perbedaan, saya kira bukanlah semata definisi atau pun goal dari inklusi. Namun, bagaimana kemudian sekolah ini mampu mengakomodir berbagai kebutuhan individu yang berbeda-beda. Ada yang kurang percaya diri butuh ditingkatkan kepercayaan dirinya, ada yang pendiam, ada yang terlalu aktif, ada yang “terlalu pintar”, ada yang kurang pintar, ada yang satu dan ada banyak yang lainnya. Nah, harapannya guru-guru dan tentu sistem di sekolah inklusi mampu menyediakan beragam cara, metode, dan model untuk memenuhi kebutuhan yang sangat luar biasa beragam ini. Sehingga satu sama lain akan saling menghargai dan terpenuhi betul haknya akan pendidikan.

sumber: naukrinama.com

5.      Menerima, menghargai, dan MERAYAKAN PERBEDAAN
Indonesia ini, sudah pasti, semuanya tahu kan? Sangat beragam masyarakatnya. Jadi kalau ada orang yang sangat anti terhadap perbedaan, aku jadi berpikir “sudah berapa lama sih dia hidup di negara ini?” Saat ini banyak sekali orang yang sangat reaktif alias nyinyir terhadap pihak yang berbeda dengannya. Satu agama, beda cara beribadah dan berpakaian, ribut! Satu suku, beda pilihan politik, ribut! Satu daerah, beda agama, ribut! Satu partai, beda tokoh panutan, ribut! Aih lucu deh pokoknya. Nah harapannya, dengan sekolah inklusi yang membiasakan anak-anak nyaris setiap hari hidup dengan beragam perbedaan, maka anak-anak ini akan tumbuh menjadi generasi yang Indonesia banget alias generasi yang nggak kagok menghadapi perbedaan, nggak alergi dengan orang yang beda pendapat, gaya, pemikiran dengannya. Agar lebih melihat apa yang SAMA daripada apa yang BEDA. Agar melihat apa yang bisa sama-sama kita KUMPULKAN daripada apa yang kita REBUTKAN. Agar melihat apa yang bisa sama-sama kita BANTU daripada apa yang bisa kita HAKIMI. Agar melihat apa yang bisa kita SYUKURI daripada apa yang kita KELUHKAN.

Menyenangkan sekali menulis tentang inklusi. Semoga nanti saya masih bisa share berbagai pengalaman lain tentang serba-serbi inklusi ini yaa..
Semangat bersatu padu untuk Indonesia Maju Indonesia Satu!




Sabtu, 20 Juli 2019

Dag dig dug derr: Menjadi Single Mom



Bekerja, mengurus anak, beres-beres rumah, menjalani hobby dan melakukan berbagai aktivitas lainnya seorang diri tanpa suami adalah tantangan yang aku jalani selama 5 hari ini.


Rasanya luar biasa sekali! Antara senang, sedih, bangga, terharu, dan ada sedikit kecewa juga.
Awal mula cerita ini adalah ketika suamiku lolos seleksi sebagai salah satu penerima beasiswa yang kondang sekali di pelosok negeri yaitu LPDP Yeaay slamat yaaa... Berhubung suamiku masuk jalur beasiswa affirmasi santri dengan TOEFL yang nyaris 500 (belum sampai 500 padahal standarnya LPDP 500) jadi kakanda tercinta harus terbang ke UI untuk ikut yang namanya pelatihan bahasa alias nama kerennya PB. Dalam hati dan ucapan dan tindakan dari awal, aku berharap bisa pelatihan di UNY atau UGM saja,, atau mana saja lah yang di Jogja. Begitu keluar undangan untuk pelatihan di Jakarta, terpaksalah aku ikhlas ikhlaskan senyumku ini untuk menyongsong kakanda terbang ke sana demi cita-cita.

Gimana lagi ya, secara aku dan suami memang bukan asli Jogja sehingga tidak ada saudara di sini. Sehingga boleh donk aku khawatir gimana nanti aku mengasuh ubay padahal aku juga kerja dari jam 7.30 sd 15.00 sementara day care ubay masih libur. Bahkan kalau gak libur pun sebenarnya cukup ribet juga karena aku baru bisa keluar kantor pukul 15.00 dan day care ubay kelar jam 15.00 juga. Artinya aku harus bayar overtime yang cukup mahal dan kebut-kebutan biar gak telat jemput (kan kasihan Ubay jadi yang terakhir dijemput) Namun, keterpaksaan dan kekhawatiran itu hanya sementara. Sejenak kemudian terbitlah sebuah spirit semangat baru dan tantangan baru yang berlandaskan aku bisa dan aku nekat! Apa saja tantangannya?

foto pribadi

  1. .        Decision Making: Mengasuh sendiri atau titip orang tua?

Dengar Mom! Saat kita telah menjadi ibu memang kita ini harus berani dan nekat. Kita haru menerima dan melaksanakan tanggung jawab mengasuh anak. Kita harus mulai mengurangi ketergantungan kita akan bantuan orang tua yang sudah berpuluh-puluh tahun ngerawat kita, masa iya masih ngurusin anak kita juga kan? Walau itu butuh proses, keyakinan, dan strategi yang tepat.
Jika dipresentasekan, hatiku 90% ingin mengasuh Ubay (oiya ini nama anakku usianya 4 tahun) sendiri. 10% adalah bisikan jiwa pengecutku yang berharap ortu akan mengasihani dan memaksa untuk Ubay dititipkan aja di Magelang yang akan membuat LDR ama ubay donk! Sedih banget! Masa iya udah LDR ama suami LDR sama anak juga. Kalau dilihat sekilas enak sih di Jogja sendiri, pulang kerja bebas mau ke mana, bangun pagi juga lega gak harus buru-buru mandiin, nyuapin, dan ngantar anak ke Day Care. Tapi Moms! Percayalah padaku, kesepian itu lebih melelahkan daripada kerepotan mengurus keluarga tersayang. Nah berbekal niat dan tekadku untuk menjadi ortu yang tanggung jawab aku putuskan untuk bilang ke ibuku “Udah bu, ngga apa apa Ubay biar ikut ke Jogja, gampang nanti bisa di day care sampai sore.” Dan yap akhirnya dimulailah petualangan duet mawut bersama Ubay. Tantangan pertama mission complete: Mengasuh sendiri!

 
foto pribadi

    2. Negosiasi: Komunikasi dan Diskusi yang baik dengan Pengelola Day Care

Saat akhirnya aku dan Ubay tinggal berdua saja di rumah, rasanya agak kosong kosong bagaimana begitu (karena rumah ini terlalu besar untuk ditinggali berdua saja heuu). Nah seperti yang sudah dipesankan oleh kakanda sebelumnya, “Jangan lupa bilang ke bu guru nya Ubay, minta bantuan kalau bisa biaya overtimenya dinego biar gak terlalu mahal karena maksimal bisa tiga bulan lho aku di Jakarta nya.”
Aku pun segera berkomunikasi dengan Bu guru bu guru yang baik di KB Permata Hati Mlangi. Sebetulnya selama Juli ini program full daynya belum mulai jadi Ubay seharusnya dijemput maksimal jam 11. Awalnya terkaget-kaget aku, karena aku pikir aku cuma akan telat jemput Ubay dari jam 15.00 hingga aku sampai KB sekitar 15.20 an. Ternyata malah ini dari jam 11 Ubay harus sudah dijemput.
Namun, berkat kebaikan hati para bu Guru juga akhirnya Alhamdulillah pihak KB memberi solusi profesional. Selepas jam 11 Ubay bisa dititipkan ke rumah salah satu guru di KB sampai aku menjemputnya dari pulang kerja dengan perhitungan biaya yang telah disepakati dan tidak memberatkan kedua belah pihak Yeay terima kasih guru guru cantik KB Permata Hati Mlangi. Mission complete: Ubay ada yang menjaga sampai aku pulang kerja!

foto pribadi

3.  Preparation: Lakukan semua yang bisa dilakukan sebelum tidur

Mom mari kita pakai pepatah populer Jangan tunda sampai besok apa yang bisa kamu lakukan hari ini! Nah itu juga menjadi slogan yang aku gaungkan selama petualang duet mawut bersama Ubay ini. Malam sebelum tidur aku usahakan banget untuk sudah menyiapkan tas Ubay yang isinya: baju ganti, botol minum, dan satu snack. Lalu satu tas lagi isinya susu bubuk dan tupperware isinya biskuit. Memang aku bawakan Ubay macam-macam cemilan karena dia lebih senang ngemil daripada makan nasi dalam porsi banyak. Setrika baju juga sebisa mungkin sebelum tidur. Tas kerjaku juga aku siapkan sebelum tidur (sebisa mungkin ehehehe). Terus masak nasi di magic com sebelum tidur. Jadi sebisa mungkin pagi tinggal mandikan Ubay, nyiapin sarapan dan bekal makan siang saja. Memang harus well prepared sih Mom kalau single fighter. Kita harus antisipasi kalau paginya kita bangun kesiangan, anak susah bangun, anak rewel dll.
Pada faktanya memang tips ini aku gak lakukan setiap hari (heee) karena biasanya aku nemenin Ubay tidur dan malah ikutan tidur. Alternatifnya kalau kita malam belum siap siap ya maksimal banget jam 05.00 harus sudah bangun. Kalau ngga gitu pasti aku telat atau ngebut kesetanan berangkat ke kantornya! Oke Mission not complete: Lakukan semua sebelum tidur (kita coba praktekan lagi minggu depan yay)

foto: parentingclub.co.id

4.   Nutrisi: Sebuah Keharusan

Dalam menjalani aktivitas kehidupan berdua seorang single mom dan anak balita tentunya cukup menguras tenaga. Eits tidak hanya tenaga kita lho! Tapi tenaga anak juga. Perlu dicermati juga, bahwa saat kita lelah kita bisa menyampaikannya pada orang lain atau langsung beristirahat atau juga langsung tahu makanan yang kita butuhkan. Namun, tidak dengan anak-anak. Apalagi di usia Ubay yang memang sedang usia super bermain. Dia bisa bermain seharian tanpa tidur siang. Mainnya pun bisa main air, tanah, pasir atau pun mainan lainnya. Selain melelahkan juga mainannya bisa mendatangkan kuman penyebab penyakit. Oleh karena itu Mom kita harus perhatikan betul asupan nutrisi si kecil ya.
Untuk Ubay ini karena memang aku belum berhasil membuatnya menyukai sayuran aku akalin nih. Pagi hari sarapannya biasanya nasi, telur, dan abon. Tambah minum susu. Kalau pas lagi rewel gak mau maem biasanya aku beri Ubay Sari Roti sandwich cokelat dan dia suka banget. Biasanya Ubay suka sate, bubur, atau nasi uduk. Tapi itu belinya di pasar dan agak jauh. Kalau ayahnya Ubay di rumah sih bisa aku beli ke pasar pas Ubay tidur. Tapi berhubung sekarang berdua saja, jadi untuk sarapan yang minimalis begitu. Untuk makan siang Alhamdulillah ubay dah mau makan sayur di rumah bu guru nya. Namun, selepas pulang kerja sorean gitu biasanya Ubay aku ajak ke kedai jus atau makan buah kesukaan dia Apel atau Pisang. Oya ubay juga mengkosumsi minyak ikan kod merk Nutrimax for Kids untuk menjaga daya tahan tubuh. Memang sih Ubay sebelumnya gampang sakit. Alhamdulillah setelah rutin minum Nutrimax ini Ubay lebih doyan makan dan jarang sakit. Mission 4 complete: Tingkatkan terus asupan nutrisi anak anak kita ya Mom!


foto pribadi

5. Key of all: Rilex and Positif thinking!

Menjalani hidup berdua dengan si kecil memang bukan hal yang mudah. Namun, itu sangat bisa dilakukan dan bisa menjadi pengalaman yang mengharukan dan sangat berarti untuk perkembangan anak dan juga perkembangan kita sebagai orang dewasa. Syarat untuk bisa mendapat makna dan hikmah dari semua kerempongan hidup berdua saja dengan si kecil adalah rilex dan positif thinking. Aku buat point-point ya biar lebih jelas Mom!
a.       Lebih baik anak tidak menuruti perintah kita selama itu tidak berbahaya daripada memaksa anak kita dengan meluapkan emosi amarah. Stop give our child traumatic moments! Kemarahan kita akan dia ingat. Lebih baik anak tidak menuruti perintah kita daripada kita melakukan kekerasan fisik atau verbal.
b.      Saat anak bilang “Aku gak mau sekolah, Ma!” Iyakan saja. Tidak ada gunanya adu mulut atau adu emosi dengan si kecil. Itu hanya menguras tenaga dan waktumu habis di pagi hari. Tenang saja. Anak-anak itu masih mudah berubah mood nya. Yang penting rayu dia biar dia mau mandi dan sarapan dengan penuh ikhlas, tenang dan kasih sayang. Sambil anak kita sarapan atau nonton tv kita siap siap dan dandan rapi outfit ke kantor insyallah si kecil dengan sendirinya mengerti bahwa dia harus mau ke sekolah alias day care. Rilex Mom! Believe me it works!
c.       Kurangi aktivitas anak yang bisa dikurangi. Berada di day care dari pagi sampai sore tentunya melelahkan bagi si kecil apalagi dia sudah bangun pagi dari biasanya. Jadi untuk Ubay ini contohnya aku agak longgar untuk sekolah petang nya (alias ngaji Iqro di Ustad sebelah rumah). Kalau Ubay lagi kelihatan capek gitu aku tidak akan memaksa dia untuk ngaji. Biasanya Ubay mau menggantinya dengan ngaji di rumah walau sambil cengengesan. Kalau lagi gak mau ya gak papa. Nanti di hari Sabtu dan Minggu pas Ubay libur day care nya biasanya yang agak aku paksa harus ngaji di Ustad sebelah rumah. Kita harus aware dengan kebutuhan fisik dan emosi anak untuk beristirahat.

Nah begitulah cerita duet mawutku bersama Ubay selama seminggu ini. Untuk para Mommy yang sedang menjalani Singlo Mom Single Fighter tetap semangat dan tetap rilex. Nikmati hari-harimu bersama si kecil karena moment moment emas bersama si kecil tak akan bisa terulang! 


foto pribadi


Oya bagi Moms yang mau baca tentang psikologi perkembangan anak bisa baca link berikut ya!

Refleksi Pelatihan Guru Merdeka Belajar

Refleksi Pelatihan Guru Merdeka Belajar                                                                         picture: wmnf.org ...